Gembala Yang Baik

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;” (Yohanes 10:11).

Ayat tersebut di atas tidaklah asing lagi bagi setiap kita. Namun tidak semua kita dapat berlaku sebagai gembala yang baik, terutama hamba-hamba Tuhan yang sebagai gembala sidang. Saya sangat bangga dengan sosok gembala GSJA Rantepao, Pdt. Yunus Dupa. Beliau bukan hanya sosok seorang pendeta gereja, tetapi seorang sosok sahabat yang sejati. Yah, bukannya karena beliau gembala di gereja kami sehingga saya mengatakan ini. Tetapi banyak orang dari kalangan di luar jemaat juga mengatakan, “jarang ada pendeta yang demikian, yang mau berkorban untuk jemaatnya.”

Mungkin dalam keadaan senang dan baik, semua gembala dapat berbuat baik dan memperhatikan jemaatnya. Namun di saat susah dan tidak baik, apalagi status dan wibawa seorang hamba Tuhan dipertaruhkan untuk kepentingan umum, saya setuju tidak banyak yang bisa berbuat demikian. Mereka bisa berkata, “Itu bukan urusan pendeta!” Atau “Jika pendeta terlibat, kemanakan wibawa seorang pendeta?”;”Masa pendeta mengurus hal-hal jemaat?”

Pernyataan-pernyataan ini sah-sah saja. Tapi yang kita lihat di sini adalah tindakan kasih. Apakah Yesus juga memperhitungkan pengorbanan-Nya di atas salib? Seandainya Yesus pun berkata, “masa Aku berkorban untuk orang-orang berdosa?”;”masa Aku berkorban untuk orang yang jelas-jelas tidak mau menuruti perkataan-Ku?”:maka kita semua pastilah orang-orang yang celaka.

Seorang gembala yang baik akan mengorbankan dirinya, nama baiknya, posisinya, dsbnya untuk menyelamatkan dombanya yang sakit/terluka/tersesat. Bukan karena dombanya hebat atau berguna, tetapi karena kasih yang ada di dalam hatinya.

Saya ingat juga beberapa sahabat yang sama-sama melayani dalam persekutuan, kami sama-sama melayani di kampung-kampung dan rumah sakit. Hampir setiap hari kami berkumpul menyembah dan berdoa. Saat itu saya masih dalam keadaan yang mampu. Namun ketika saya jatuh dan tidak berdaya lagi, tak seorang pun yang berkumpul lagi. Bahkan kami rindu berkumpul sama-sama berdoa seperti dulu, tetapi jawabannya selalu, “Sibuk pelayanan!” “Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi.” (Amsal 19:7).

Di sini saya menarik kesimpulan. Ada banyak orang Kristen yang lebih mudah mengatakan Kasih, tetapi tidak banyak yang dapat melakukan tindakan kasih apalagi saat dalam keadaan yang buruk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s